Saat namanya diucap,
Saraf tubuhku tak bekerja normal.
Otakku beku.
Lidahku kelu.
Badanku ngilu
Siluet nyata yang menjeratku lewat tatapannya.
Menjebakku tiap sentuhannya.
Mengguratkan lengkung merona lewat gema
suaranya.
Aku gemar bergerilya memahami lekuk
wajahnya
Tak terlalu sempurna
Tapi keindahanya kentara
Tahukah kamu siapa aku?
Mati rasa yang kamu ajarkan asmara.
Yang kamu tuntun pulang
Lalu menemukan belahan jiwa
Belahan jiwa yang tak pernah absen kurapal
namanya pada tuhan.
Sosok yang menjatuhcintakkanku dengan cara
kelewat sederhana.
Haruskah kusebut namanya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar