Sesapan teh
tak sehangat rengkuhmu.
Nyamanya
tak mampu gantikan genggamanmu.
Lelucon
manapun takkan tandingi tawaku karenamu
awan yang
menghitam tak ubahnya aku
Lalu,
dimana mentariku?
Mentariku..
Yang kau
rasa..
Adalah
dingin kesepian..
Dingin
menggigil yang gerogotimu perlahan..
Yang kau
lihat kini..
Adalah
mendung yang gagal membendung
siap
tumpahkan hujannya.
Yang kau
dengar..
Adalah
alunan musik berbisik
Sayup-sayup
kau dengar ia merasuk..
Menyayat
rusukmu..
Diantara
rintik hujan menyentuh senja
Diantara
tanah basah dan cerita sekelilingnya.
Katakan
padaku bahwa mentari masih terbit lantas terangi pagi
Berjanjilah
bahwa kau,
tak lantas
tinggalkan aku lagi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar