Senin, 04 Juni 2012

moccacino, dan kita

kita sama-sama pecinta udara malam dan moccacino hangat
aku teringat akan segelas moccacino yang dia sodorkan saat dingin malam  itu. 
menggelitik rasa rinduku melalui siluet-siluet gerakan lambat, menerawang masa lalu, dan mencecap rasa moccacino itu lebih dalam, lebih nikmat meski pahit merasuki seluruh lidah. berbeda.
.
moccacino, sama seperti kopi biasa, hanya saja aku dan dia memiliki arti dan definisi yang berbeda 
seakan akan, kafein adalah aku dan dia adalah pecandu.
moccacino lambang apa yang dimaksud tentang definisi cinta itu sendiri.
mulai dari manis, pahit dan rasa kecanduan itu sendiri.

moccacino yang selalu membuat para pecandunya tak bisa berpaling
moccacino, obat penghangat kala malam
moccacino, macam psikotropika para manusia stress, para pemikir yang suntuk

semanis apapun moccacino itu sendiri, tak akan menandingi rasa asli kopi. pahit. seperti cinta. semesra apapun pasangan itu, selalu ada masalah. seromansa apapun cinta itu, pasti akan ada luka.
manis memang membuai siapapun pencintanya, tapi pahit, senantiasa menorehkan pedih.
manis memang melambungkan asa tapi pahit selalu menjatuhkannya. pahit dan manis memang sudah tak bisa dipisahkan.

kuteguk lagi sisa moccacino  dalam gelasku dibarengi dengan guyuran air langit tanda duka pada sang empunya sakit. air langit yang acap kali membawa nanar, mengorek-ngorek luka yang belum mengering.

sekarang, aku dan dia saling sibuk menghitungi berapa pecahan hati yang disia-siakan dan siapa yang terluka paling banyak. aku tak peduli jika itu aku. 
yang aku inginkan "kita" . "kita" yang pada akhirnya sadar bahwa saling melukai lalu kembali untuk saling melengkapi.

sehingga seperti diawal, kita akan merasakan pahit manis mocacino yang sama, definisi cinta yang sama. kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar