Sebuah kebenaran. Jika selama ini aku dengan sisa tenagaku --seusai meratapi sakit masa lalu.
Mencoba menguburnya.
Aku sedang dibutakan, oleh setetes air mata hujan kemarin
malam.
Saat itu. Aku menutup hati, hanya untukmu.
Kamu datang dan pergi. Sudah biasa.
Kamu mengambil satu persatu pecahan hati yang sudah
kurekatkan susah payah seiring kepergianmu.
Selain duka yang merajam, senyumku pun tak lagi utuh.
Mungkin sampai nanti kamu
mengembalikan pecahan hati itu.
Sebuah kebenaran. Yang akhirnya aku akui. Bahwa selama ini
aku tidak berevolusi.
Aku tidak berjalan sedemikian aku menginginkannya
Aku hanya berotasi. Aku hanya jalan ditempat
Membuat semuanya sebagai cameo, dan kamu sebagai peran
utamanya.
Membuat semuanya sebagai bintang kecil. Dan kamu mataharinya.
Membuat semuanya sebagai tempat pariwisata dan kamu rumahnya.
Sebuah kebenaran. Dimana aku lelah harus berjalan tanpa perubahan.
Dimana
kontak otakku sudah diambil oleh jiwa yang lain.
aku ingin pulang, dimanapun, belahan jiwa itu berada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar