Sabtu, 11 Agustus 2012

dongeng duka si pengagum rahasia


Sebenarnya aku menulis ini karena kekurangan media untuk di dongengi.
Masih topik dan alur yang sama. Aku sebagai pengagum rahasia, dan dia yang sudah memilih tuan putri yang lain -dia juga sepertinya takkan pernah memilih aku- wanita aneh, yang tak seanggun tuan putrinya kini. Jangan tanya perasaanku gimana, semua yang merasakannya juga pilu. Untung saja aku pandai menyembunyikan, tak terlalu kentara jadinya. 

Aku takut... Jika saja dia tau, dan malah merasa terganggu lalu menjauh.. Sungguh aku hanya ingin sama dipandang olehnya -meski dalam konteks teman- daripada dipandang sebagai penghancur harinya.
Aku memang terlalu muluk. Berkeinginan bersanding dengannya Padahal?ya aku sudah tau jawabannya. Tak usah diulang-ulang sampai aku muak.
Entah setan apa yang membuatku menuliskan hal-hal tak penting dan membingungkan ini. Aku hanya bingung ingin berbagi pada siapa karena nyatanya, tak ada yang persis mengalami hal ini layaknya aku. Seharusnya halhal seperti ini tak perlu dipersulit -kata otak-, tapi hati terlalu berkhianat. Sial.
Bagiku, tak perlu banyak waktu untuk melupakan. Tapi entah yang ini terlalu mengendap dan berdiam diri lalu mendiami relung hati yang lama tak terisi .
Dan aku mulai bertanya "berapa banyak aku melontar kata 'entah' saat ini" banyak hal yang tak ku ketahui tentang rasaku sendiri, terlalu absurd?
Jika kamu tau siapa dia, tolong tanyakan ke beberapa wanita. Apa yang membuat dia banyak di kagumi, dan hingga aku segila ini memuja sosoknya?dia kharismatik.
Dan untukmu! Tuan putrinya kini, percayalah kamu sangat beruntung :) dia sepertinya rela berkorban apapun untukmu, aku merasakannya, karena aku mengerti. Jangan sia-sia kan cintanya yang tulus itu tuan putri... Sebenarnya aku ingin ditempatmu tapi aku tau aku tak pantas :)
Aku sudah belajar cara membersihkan kerak-kerak kenangan terbungkus selimut pertemanan itu, aku sudah belajar melepaskan angan yang ku genggam secara brutal dulu. Mulai mengkosongkan hati dan membiasakan indraku agar tak segera reflek menoleh dan mengikuti sosokmu melalui ekor mata ketika melihat kamu lalu.
Aku merubah hati dan arah akhirnya.
Cukup segini saja dongengnya, aku mulai ngilu membacanya. Akhir kata.
Berbahagialah kalian berdua, aku ikut merasakannya :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar