Sebenarnya aku menulis ini karena kekurangan media untuk di
dongengi.
Masih topik dan alur yang sama. Aku sebagai pengagum
rahasia, dan dia yang sudah memilih tuan putri yang lain -dia juga sepertinya
takkan pernah memilih aku- wanita aneh, yang tak seanggun tuan putrinya kini.
Jangan tanya perasaanku gimana, semua yang merasakannya juga pilu. Untung saja
aku pandai menyembunyikan, tak terlalu kentara jadinya.
Aku takut... Jika saja
dia tau, dan malah merasa terganggu lalu menjauh.. Sungguh aku hanya ingin sama
dipandang olehnya -meski dalam konteks teman- daripada dipandang sebagai
penghancur harinya.
Aku memang terlalu muluk. Berkeinginan bersanding dengannya
Padahal?ya aku sudah tau jawabannya. Tak usah diulang-ulang sampai aku muak.
Entah setan apa yang membuatku menuliskan hal-hal tak
penting dan membingungkan ini. Aku hanya bingung ingin berbagi pada siapa
karena nyatanya, tak ada yang persis mengalami hal ini layaknya aku. Seharusnya
halhal seperti ini tak perlu dipersulit -kata otak-, tapi hati terlalu
berkhianat. Sial.
Bagiku, tak perlu banyak waktu untuk melupakan. Tapi entah
yang ini terlalu mengendap dan berdiam diri lalu mendiami relung hati yang lama tak terisi .
Dan aku mulai bertanya "berapa banyak aku melontar kata
'entah' saat ini" banyak hal yang tak ku ketahui tentang rasaku sendiri,
terlalu absurd?
Jika kamu tau siapa dia, tolong tanyakan ke beberapa wanita.
Apa yang membuat dia banyak di kagumi, dan hingga aku segila ini memuja
sosoknya?dia kharismatik.
Dan untukmu! Tuan putrinya kini, percayalah kamu sangat
beruntung :) dia sepertinya rela berkorban apapun untukmu, aku merasakannya,
karena aku mengerti. Jangan sia-sia kan cintanya yang tulus itu tuan putri...
Sebenarnya aku ingin ditempatmu tapi aku tau aku tak pantas :)
Aku sudah belajar cara membersihkan kerak-kerak kenangan
terbungkus selimut pertemanan itu, aku sudah belajar melepaskan angan yang ku
genggam secara brutal dulu. Mulai mengkosongkan hati dan membiasakan indraku
agar tak segera reflek menoleh dan mengikuti sosokmu melalui ekor mata ketika
melihat kamu lalu.
Aku merubah hati dan arah akhirnya.
Cukup segini saja dongengnya, aku mulai ngilu membacanya.
Akhir kata.
Berbahagialah kalian berdua, aku ikut merasakannya :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar